Beranda | Artikel
Memahami Keagungan Al-Quran melalui Kisah Ulul Azmi
12 jam lalu

Memahami Keagungan Al-Qur’an melalui Kisah Ulul Azmi adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Burhan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 5 Ramadhan 1447 H / 23 Februari 2026 M.

Kajian Tentang Memahami Keagungan Al-Qur’an melalui Kisah Ulul Azmi

Istimewanya, seluruh kisah dalam kitab ini diambil langsung dari Al-Qur’anul Karim. Melalui pembelajaran ini, seorang muslim tidak hanya mengenal sejarah para nabi, tetapi juga memahami isi kandungan Al-Qur’an. Aktivitas ini diharapkan mencakup apa yang disabdakan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).

Hakikat Belajar dan Mengajarkan Al-Qur’an

Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Qayyim rahimahullah, belajar dan mengajarkan Al-Qur’an meliputi dua aspek utama. Pertama, mempelajari lafaz atau cara membacanya dengan baik dan benar. Kedua, mempelajari isi serta maknanya.

Aspek kedua merupakan inti dari diturunkannya Al-Qur’an. Memahami makna dan tafsir melalui penjelasan para ulama serta mempelajari kisah-kisah di dalamnya adalah bagian tak terpisahkan dari proses belajar Al-Qur’an. Sangat disayangkan jika pengetahuan sebagian orang membatasi hadits tersebut hanya bagi mereka yang belajar membaca lafaz semata. Padahal, mengajarkan tafsir dan kandungan makna Al-Qur’an justru merupakan prioritas utama yang masuk dalam cakupan hadits tersebut.

Al-Qur’an: Mukjizat yang Terjaga

Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar yang diberikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di antara ribuan mukjizat lainnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjamin keaslian kitab suci ini melalui firman-Nya:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.” (QS. Al-Hijr[15]: 9).

Jaminan ini terbukti nyata; tidak ada satu huruf pun yang hilang atau berubah sejak diturunkan hingga saat ini. Penelitian para orientalis terhadap berbagai kitab suci di muka bumi menunjukkan hasil bahwa hanya Al-Qur’anul Karim yang masih utuh, autentik, dan tidak mengalami perubahan. Segala upaya untuk mengubah isi Al-Qur’an pasti akan segera diketahui oleh umat Islam.

Keteguhan Al-Qur’an juga nampak dalam catatan sejarah. Pada masa Khalifah Al-Ma’mun, rutin diadakan Majelis Munadzarah yang dihadiri oleh para cendekiawan dari berbagai latar belakang agama. Yahya bin Aktsam mengisahkan kehadiran seorang pria Yahudi yang berpenampilan sangat menarik, berbau harum, dan memiliki kecerdasan yang memukau. Sang Khalifah tertarik pada kepandaian pria tersebut meskipun mengetahui ia penganut agama Yahudi.

Khalifah Al-Ma’mun pernah bertanya kepada seorang pria yang hadir di majelisnya mengenai latar belakangnya. Khalifah menanyakan apakah ia berasal dari golongan Bani Israil, yang kemudian dijawab benar oleh pria tersebut. Khalifah kemudian menawarkan pria Yahudi itu untuk memeluk Islam dengan janji akan memuliakannya serta memberikannya banyak hadiah. Namun, pria tersebut menolak dengan tegas dan menyatakan tetap memegang teguh agama nenek moyangnya.

Setahun kemudian, majelis serupa kembali diadakan. Pria tersebut hadir kembali, namun kali ini ia telah memeluk Islam dan berbicara mengenai keindahan agama ini dengan sangat memukau. Khalifah Al-Ma’mun yang merasa penasaran kemudian bertanya mengenai alasan keislamannya. Pria tersebut menjelaskan bahwa setelah meninggalkan majelis tahun lalu, ia terdorong untuk menguji kebenaran agama-agama yang ada menggunakan kemampuannya dalam menulis indah (khat).

Pria tersebut memulai pengujiannya dengan menyalin tiga naskah kitab Taurat. Ia sengaja menambahkan dan mengurangi isi naskah tersebut secara halus agar tidak mudah disadari. Setelah naskah itu selesai, ia membawanya kepada komunitas Yahudi dan ketiga naskah palsu tersebut habis terjual tanpa ada yang menyadari perubahannya.

Selanjutnya, ia melakukan hal yang sama terhadap kitab Injil. Ia menyalin tiga naskah Injil dengan tulisan tangannya, lalu menambah dan mengurangi isinya. Singkat cerita, naskah-naskah Injil hasil gubahannya itu pun laku terjual dan diterima oleh mereka tanpa ada pengoreksian terhadap perubahan yang ia lakukan.

Tahap terakhir, pria tersebut menyalin tiga naskah Al-Qur’an. Sebagaimana yang dilakukan pada naskah sebelumnya, ia menambahkan dan mengurangi isi Al-Qur’an tersebut di beberapa bagian. Ia kemudian membawa naskah itu kepada para pedagang kitab atau yang dikenal sebagai warraqin.

Ketelitian Umat Islam dalam Menjaga Al-Qur’an

Dalam kisah tersebut, para pedagang naskah (warraqin) membuka, membaca, dan meneliti setiap lembar naskah dengan penuh kesabaran. Mereka memeriksa halaman demi halaman secara mendalam. Ketika mereka mendapati adanya pertambahan atau pengurangan pada tiga naskah tersebut, mereka langsung melemparkannya tanpa ragu sedikitpun sambil menegaskan bahwa naskah itu palsu.

Peristiwa ini menjadi titik balik bagi pria Yahudi tersebut untuk mendapatkan hidayah dan memeluk Islam. Hal ini membuktikan kebenaran firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.” (QS. Al-Hijr[15]: 9).

Al-Qur’an yang ada saat ini, baik yang berada di Indonesia, Madinah, Makkah, hingga yang tersebar di Amerika, Eropa, Australia, Malaysia, maupun Singapura, semuanya memiliki redaksi yang sama. Keaslian ini berbeda dengan kitab-kitab selain Al-Qur’an yang sering kali mengalami perubahan bahasa maupun isi tanpa disadari pengikutnya. Meskipun diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, para ulama mensyaratkan agar teks asli bahasa Arab tetap dicantumkan di samping atau di tengah terjemahan tersebut agar keasliannya tetap terjaga.

Keistimewaan Rasm Utsmani dan Penghafal Al-Qur’an

Bukti lain terjaganya Al-Qur’an adalah penggunaan Rasm Utsmani. Penulisan ini memiliki kaidah khusus yang berbeda dengan penulisan Arab biasa (khat), seperti pada kata ash-shalah (الصَّلَوٰةُ) yang dalam Rasm Utsmani penulisannya menggunakan huruf wawu meskipun dibaca alif. Penulisan Al-Qur’an wajib mengikuti kaidah Rasm Utsmani ini.

Keistimewaan Al-Qur’an juga didukung oleh jutaan orang yang menghafalnya di seluruh dunia. Tidak hanya orang Arab, orang non-Arab (ajam) pun mampu menghafal lafaznya dengan sangat persis, bahkan terkadang dengan pelafalan yang lebih baik. Penghafalnya pun tidak terbatas pada orang tua; anak-anak kecil pun mampu menghafal juz-juz di dalam Al-Qur’an. Kesalahan kecil pada harakat sekalipun akan langsung terdeteksi oleh para penjaga wahyu ini.

Al-Qur’an sebagai Jalan Kemuliaan

Al-Qur’an merupakan kitab suci terbaik yang diturunkan pada malam paling mulia, yaitu Lailatul Qadar. Wahyu ini dibawa oleh malaikat paling mulia, Malaikat Jibril, untuk disampaikan kepada nabi paling mulia, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Jika umat Islam menginginkan kemuliaan dan derajat yang tinggi, maka jalan satu-satunya adalah kembali mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an serta sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Kisah Nabi Nuh ‘Alaihis Salam: Menghadapi Syubhat Kaumnya

Memasuki pembahasan kisah Nabi Nuh ‘Alaihis Salam, terdapat berbagai syubhat atau keragu-raguan yang disebarkan oleh kaumnya untuk menghalangi dakwah beliau. Salah satu syubhat tersebut adalah klaim bahwa Nabi Nuh ‘Alaihis Salam hanya menginginkan kedudukan yang lebih mulia di atas mereka.

Tuduhan ini disebarkan semata-mata untuk membuat manusia ragu dan menolak ajakan tauhid yang dibawa oleh Nabi Nuh ‘Alaihis Salam.

Kaum Nabi Nuh ‘Alaihis Salam melontarkan berbagai klaim dan tuduhan untuk meragukan niat beliau agar manusia menolak dakwahnya. Mereka sengaja menciptakan keragu-raguan terhadap keikhlasan beliau dalam berdakwah. Dalil mengenai hal ini terdapat dalam Al-Qur’an surah Al-Mu’minun:

وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا نُوْحًا اِلٰى قَوْمِهٖ فَقَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗۗ اَفَلَا تَتَّقُوْنَ . فَقَالَ الْمَلَؤُا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ قَوْمِهٖ مَا هٰذَآ اِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْۙ يُرِيْدُ اَنْ يَّتَفَضَّلَ عَلَيْكُمْۗ وَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَاَنْزَلَ مَلٰۤىِٕكَةً ۚمَا سَمِعْنَا بِهٰذَا فِيْٓ اٰبَاۤىِٕنَا الْاَوَّلِيْنَ . اِنْ هُوَ اِلَّا رَجُلٌۢ بِهٖ جِنَّةٌ فَتَرَبَّصُوْا بِهٖ حَتّٰى حِيْنٍ

“Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia berkata, ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah, (karena) tidak ada sembahan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa?’ Maka berkatalah para pemuka orang kafir dari kaumnya, ‘Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang ingin menjadi orang yang lebih mulia darimu. Dan seandainya Allah menghendaki, tentu Dia mengutus malaikat. Kami tidak pernah mendengar (cerita) seperti ini pada zaman nenek moyang kami dahulu. Dia hanyalah seorang laki-laki yang berpenyakit gila, maka tunggulah (sabarlah) terhadapnya sampai waktu yang ditentukan’.” (QS. Al-Mu’minun[23]: 23-25).

Isi dakwah Nabi Nuh ‘Alaihis Salam adalah ajakan tauhid, yaitu perintah untuk beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena pada saat itu mereka menyembah dan berdoa kepada patung-patung. Namun, para pemuka kaumnya justru menuduh beliau sebagai manusia biasa yang hanya mencari kedudukan agar lebih mulia dari mereka. Mereka juga berdalil bahwa jika Allah ‘Azza wa Jalla menghendaki seorang rasul, niscaya yang diutus adalah malaikat, bukan manusia. Selain itu, mereka menggunakan alasan tradisi nenek moyang serta menuduh Nabi Nuh ‘Alaihis Salam memiliki penyakit gila (majnun).

Tuduhan yang bertubi-tubi ini merupakan ujian yang sangat berat. Para nabi datang agar manusia selamat dari api neraka dan masuk ke dalam surga, namun mereka justru mendapatkan perlakuan yang keji.

Bantahan terhadap Syubhat Kaum Nuh

Nabi Nuh ‘Alaihis Salam membantah syubhat tersebut dengan menegaskan bahwa beliau adalah seorang nadzir (pemberi peringatan) dan rasul yang diutus resmi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau berkata kepada mereka:

اِنِّيْ لَكُمْ نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ

“Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu.” (QS. Hud[11]: 25).

Beliau juga menegaskan posisinya sebagai utusan Rabb semesta alam yang hanya menjalankan tugas menyampaikan risalah:

اُبَلِّغُكُمْ رِسٰلٰتِ رَبِّيْ وَاَنْصَحُ لَكُمْ وَاَعْلَمُ مِنَ اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

“Aku menyampaikan risalah (amanat) Rabbku kepadamu dan aku memberi nasihat kepadamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-A’raf[7]: 62).

Bantahan telak lainnya terhadap tuduhan bahwa beliau mencari kemuliaan duniawi atau harta adalah pernyataan bahwa beliau tidak meminta imbalan sedikitpun dari manusia. Beliau berkata:

وَيٰقَوْمِ لَآ اَسْئَلُكُمْ عَلَيْهِ مَالًا ۗاِنْ اَجْرِيَ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ

“Dan wahai kaumku! Aku tidak meminta harta kepada kamu sebagai imbalan (dakwahku). Imbalanku hanyalah dari Allah.” (QS. Hud[11]: 29).

Pernyataan ini menggugurkan klaim bahwa Nabi Nuh ‘Alaihis Salam memiliki niat terselubung untuk menjadi lebih mulia atau mengumpulkan harta dari kaumnya, karena seluruh upah atas perjuangan beliau hanya diharapkan dari Allah ‘Azza wa Jalla.

Nabi Nuh ‘Alaihis Salam membantah tuduhan kaumnya dengan menegaskan bahwa beliau hanyalah seorang pemberi peringatan dan rasul yang tidak mengharapkan harta maupun upah dari manusia. Beliau sama sekali tidak memiliki ketertarikan terhadap harta benda milik kaumnya. Sifat tidak berambisi terhadap apa yang dimiliki orang lain merupakan kunci agar seseorang dicintai oleh sesama. Hal ini sejalan dengan pesan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika seorang sahabat bertanya mengenai cara mendapatkan cinta manusia. Beliau bersabda:

ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ

“Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah mencintaimu. Dan zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya manusia mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah).

Nabi Nuh ‘Alaihis Salam telah mempraktekkan hal tersebut. Beliau tidak pernah merasa iri atau menginginkan kenikmatan duniawi yang ada pada kaumnya. Oleh karena itu, tuduhan bahwa dakwah beliau hanyalah kedok untuk mencari kemuliaan dan derajat di hadapan manusia adalah sebuah kebohongan besar. Menuduh niat seseorang adalah tindakan yang dilarang karena masalah hati hanyalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman mengenai tuduhan besar semacam itu:

سُبْحٰنَكَ هٰذَا بُهْتَانٌ عَظِيْمٌ

“Maha Suci Engkau, ini adalah kebohongan yang besar.” (QS. An-Nur[24]: 16).

Hikmah Mempelajari Kisah dan Mentadaburi Al-Qur’an

Seluruh syubhat dan tuduhan kaum Nabi Nuh ‘Alaihis Salam diabadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an surah Hud ayat 25 sampai 31. Manfaat mempelajari kisah-kisah ini adalah agar saat membaca Al-Qur’an, seseorang dapat lebih memahami isi, hukum, dan terutama masalah tauhid dengan lebih mendalam.

Kegiatan tadarus Al-Qur’an dianjurkan untuk dilakukan dengan penuh perhatian dan tadabbur. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun mencontohkan bahwa setiap bulan Ramadhan, beliau bertadarus bersama Malaikat Jibril ‘Alaihis Salam. Bahkan pada tahun kewafatan beliau, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukan setoran hafalan sebanyak dua kali.

Tadarus di malam hari dapat dilakukan secara berkelompok dengan saling menyimak bacaan. Namun, kegiatan ini sebaiknya dilakukan dengan suara yang tidak mengganggu orang lain, misalnya dengan tidak menggunakan pengeras suara secara berlebihan, agar kekhusyukan dan keikhlasan tetap terjaga.

Pembangkangan dan Permintaan Azab dari Kaum Nuh

Kaum Nabi Nuh ‘Alaihis Salam tidak hanya berhenti pada kekufuran dan pembangkangan, tetapi mereka justru menentang beliau untuk segera menurunkan azab yang selama ini diancamkan. Mereka menuduh Nabi Nuh ‘Alaihis Salam terlalu banyak berdebat, padahal beliau hanya menyampaikan dakwah dengan penuh kesabaran. Kesombongan mereka mencapai puncaknya sebagaimana terekam dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قَالُوْا يٰنُوْحُ قَدْ جَادَلْتَنَا فَاَكْثَرْتَ جِدَالَنَا فَاْتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ اِنْ كُنْتَ مِنَ الصّٰدِقِيْنَ

“Mereka berkata (kaum Nabi Nuh), ‘Wahai Nuh! Sungguh, engkau telah berbantah dengan kami, dan engkau telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang engkau ancamkan kepada kami, jika engkau termasuk orang yang benar’.” (QS. Hud[11]: 32).

Sikap menantang azab ini menunjukkan betapa kerasnya hati kaum Nabi Nuh ‘Alaihis Salam dan betapa mereka tidak memiliki rasa takut sedikitpun terhadap ancaman Allah ‘Azza wa Jalla.

Kedatangan azab Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah peristiwa yang sangat mengerikan. Nabi Nuh ‘Alaihis Salam hanya perlu berdoa satu kali, dan seketika itu pula kaumnya hancur serta binasa. Hal ini menunjukkan bahwa doa merupakan salah satu senjata utama bagi orang yang beriman. 

Kaum Nabi Nuh ‘Alaihis Salam terus-menerus berada dalam kekafiran, pembangkangan, dan kesombongan yang luar biasa. Mereka bahkan menantang Nabi Nuh ‘Alaihis Salam agar segera menurunkan azab. Akhirnya, Allah ‘Azza wa Jalla mengabarkan kepada Nabi Nuh ‘Alaihis Salam bahwa tidak akan ada lagi yang beriman dari kaumnya kecuali mereka yang telah beriman sebelumnya.

Perbandingan Akal Manusia dan Insting Binatang

Nabi Nuh ‘Alaihis Salam berdakwah selama 950 tahun, namun jumlah pengikutnya sangat sedikit, bahkan ada ulama yang menyebutkan jumlahnya hanya belasan orang. Manusia seringkali memiliki watak yang keras kepala; semakin didakwahi, mereka justru semakin menjauh.

Fenomena ini menunjukkan bahwa insting binatang yang lurus seringkali lebih baik daripada akal manusia yang sakit. Ketika diperintahkan untuk masuk ke dalam bahtera, binatang-binatang yang berpasangan tersebut menurut dan akhirnya selamat. Sebaliknya, manusia yang telah didakwahi ratusan tahun tetap memilih membangkang. Bahkan ketika air bah mulai keluar dari langit dan bumi, hingga tungku-tungku masak pun memancarkan air dengan deras, mereka tetap menolak keselamatan. Anak Nabi Nuh ‘Alaihis Salam sendiri tetap bersikeras akan mendaki gunung untuk berlindung, padahal pada hari itu tidak ada perlindungan dari murka Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga gunung pun ikut tenggelam.

Pelajaran dan Ibrah dari Kisah Nabi Nuh

Terdapat beberapa pelajaran berharga (mau’izhah) dan ibrah yang dapat diambil dari sikap kaum Nabi Nuh ‘Alaihis Salam terhadap utusan Allah ‘Azza wa Jalla.

Pelajaran pertama adalah syubhat atau keragu-raguan yang dimunculkan serta disebarkan oleh orang-orang kafir, musuh para rasul, dan musuh para dai di setiap zaman dan tempat pada hakikatnya memiliki pola yang sama. Pola keragu-raguan atau syubhat yang dilontarkan oleh para penentang dakwah selalu sama di setiap masa dan tempat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menegaskan hal ini:

مَا يُقَالُ لَكَ إِلَّا مَا قَدْ قِيلَ لِلرُّسُلِ مِنْ قَبْلِكَ

“Apa yang dikatakan (oleh orang-orang kafir) kepadamu (Muhammad) tidak lain adalah apa yang telah dikatakan kepada rasul-rasul sebelummu.” (QS. Fussilat[41]: 43).

Tuduhan yang dialamatkan kepada para rasul selalu berputar pada kalimat yang serupa, yaitu tuduhan sebagai tukang sihir atau orang gila. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

كَذَٰلِكَ مَا أَتَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ . أَتَوَاصَوْا بِهِ ۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ

“Demikianlah tidak ada seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, ‘Dia itu adalah tukang sihir atau orang gila’. Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu? Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas.” (QS. Az-Zariyat[51]: 52-53).

Mukjizat Tongkat Nabi Musa ‘Alaihis Salam

Kisah Nabi Musa ‘Alaihis Salam mendominasi banyak bagian dalam Al-Qur’an, sehingga para ulama menyebutkan bahwa seolah-olah Nabi Musa mengambil porsi besar di dalamnya. Salah satu mukjizat beliau yang paling dikenal adalah tongkat yang dapat berubah menjadi ular saat menghadapi Firaun dan para tukang sihirnya.

Terkait detail fisik seperti jenis kayu tongkat Nabi Musa atau warna anjing Ashabul Kahfi, Al-Qur’an tidak menjelaskannya secara rinci. Para ulama berpendapat bahwa mencari tahu hal-hal yang tidak disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan tindakan yang kurang bermanfaat. Fokus utama adalah pada fungsi dan pelajaran dari kejadian tersebut. Dalam Al-Qur’an, Allah ‘Azza wa Jalla bertanya kepada Nabi Musa:

وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَىٰ

“Apakah itu yang di tangan kananmu, wahai Musa?” (QS. Thaha[20]: 17).

Nabi Musa ‘Alaihis Salam menjawab dengan menjelaskan manfaat tongkat tersebut bagi kesehariannya:

قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَىٰ غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَىٰ

“Dia berkata, ‘Ini adalah tongkatku, aku bertumpu padanya, dan aku merontokkan (daun-daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi manfaat yang lain padanya’.” (QS. Taha[20]: 18).

Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian memerintahkan beliau untuk melemparkan tongkat tersebut:

قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَىٰ . فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَىٰ

“Allah berfirman, ‘Lemparkanlah ia, wahai Musa!’ Lalu dilemparkannya tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat.” (QS. Thaha[20]: 19-20).

Ular tersebut adalah ular yang nyata, bukan sekadar khayalan atau sihir mata. Hal ini berbeda dengan tali dan tongkat para tukang sihir Firaun yang hanya nampak bergerak karena sihir, sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat selanjutnya dalam Al-Qur’an.

Nabi Musa ‘Alaihis Salam ditantang oleh ribuan tukang sihir kepercayaan Firaun untuk bertarung di hadapan publik. Beliau memilih waktu pertemuan pada Yaumuz Zinah atau hari raya nasional saat waktu dhuha. Pemilihan waktu dhuha ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa sihir manusia akan nampak sangat lemah di bawah cahaya matahari yang terang, sekaligus membuktikan kekuatan mukjizat Allah Subhanahu wa Ta’ala secara nyata di depan ribuan penonton.

Tukang sihir Firaun yang sangat mahir menawarkan kepada Nabi Musa ‘Alaihis Salam untuk memulai lemparan terlebih dahulu. Allah ‘Azza wa Jalla mengabadikan tantangan mereka dalam Al-Qur’an:

قَالُوْا يٰمُوْسٰٓى اِمَّآ اَنْ تُلْقِيَ وَاِمَّآ اَنْ نَّكُوْنَ اَوَّلَ مَنْ اَلْقٰى

“Mereka berkata, ‘Wahai Musa! Engkaukah yang akan melemparkan (dahulu) atau kamikah yang mula-mula melemparkan?`” (QS. Taha[20]: 65).

Nabi Musa ‘Alaihis Salam mempersilahkan mereka melempar terlebih dahulu. Ketika mereka melemparkan tali-tali dan tongkat-tongkat, benda-benda tersebut nampak seolah-olah menjadi ular yang merayap. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa itu hanyalah khayalan atau tipu daya mata belaka:

فَاِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ اِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ اَنَّهَا تَسْعٰى

“… maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka terbayang kepadanya (Musa) seakan-akan merayap cepat, karena sihir mereka.” (QS. Taha[20]: 66).

Meskipun itu hanya sihir, pengaruhnya sangat dahsyat hingga membuat manusia takut. Nabi Musa ‘Alaihis Salam pun sempat merasakan kekhawatiran dalam hatinya, namun Allah Subhanahu wa Ta’ala menenangkan beliau:

قُلْنَا لَا تَخَفْ اِنَّكَ اَنْتَ الْاَعْلٰى . وَاَلْقِ مَا فِيْ يَمِيْنِكَ تَلْقَفْ مَا صَنَعُوْا ۗاِنَّمَا صَنَعُوْا كَيْدُ سٰحِرٍۗ وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ اَتٰى

“Kami berfirman, ‘Janganlah takut! Sungguh, engkaulah yang unggul (menang). Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka buat. Apa yang mereka buat itu hanyalah tipu daya pesihir (belaka). Dan pesihir itu tidak akan menang, dari manapun ia datang’.” (QS. Taha[20]: 68-69).

Tongkat Nabi Musa ‘Alaihis Salam berubah menjadi ular sungguhan yang melahap habis semua khayalan para tukang sihir tersebut. Para tukang sihir yang memahami hakikat sihir menyadari bahwa apa yang dibawa Nabi Musa ‘Alaihis Salam bukanlah sihir, melainkan mukjizat dari Tuhan Semesta Alam. Seketika itu juga mereka bersujud dan menyatakan keimanan kepada Rabb Harun dan Musa.

Firaun yang terkejut dan kalut menuduh Nabi Musa ‘Alaihis Salam sebagai pemimpin para tukang sihir yang telah mengajarkan ilmu tersebut kepada mereka. Ia mengancam akan menyalib para tukang sihir tersebut, namun mereka tetap teguh pada keimanannya karena telah melihat kebenaran yang nyata.

Tuduhan yang Sama kepada Para Rasul

Pola penolakan terhadap kebenaran selalu berulang. Sebelum kaum Quraisy, umat terdahulu telah menuduh para rasul sebagai tukang sihir atau orang gila. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كَذٰلِكَ مَآ اَتَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِّنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا قَالُوْا سَاحِرٌ اَوْ مَجْنُوْنٌ

“Demikianlah tidak ada seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, ‘Dia itu adalah tukang sihir atau orang gila’.” (QS. Az-Zariyat[51]: 52).

Nabi Nuh ‘Alaihis Salam, Nabi Musa ‘Alaihis Salam, hingga Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam semuanya menghadapi tuduhan keji yang sama. Kaum Quraisy juga menggunakan cara ini untuk menghalangi manusia dari dakwah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Hal ini menjadi pelajaran besar bagi para dai bahwa tantangan dalam berdakwah adalah sebuah keniscayaan yang telah dialami oleh para nabi terdahulu.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian “Memahami Keagungan Al-Qur’an melalui Kisah Ulul Azmi” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56101-memahami-keagungan-al-quran-melalui-kisah-ulul-azmi/